Dosen Hanya Fasilitator
Oleh Mas Adhi
Peran dosen dalam proses pembelajaran memang tidak kalah penting. Namun yang lebih penting lagi yaitu pribadi mahasiswa (student personality) yang harus dibenahi. Karena sebagus apapun kurikulum dan sebaik apapun metode mengajar dosen kalau tidak diimbangi oleh kemampuan (skill) mahasiswa, itu adalah suatu kebohongan (non sense).
Ciri atau karakter dari pendidikan orang dewasa (Andragogi) yaitu mahasiswa dituntut untuk aktif dalam pencarian ilmu. Begitu pula dengan peran dosen, ketika mahasiswa kesulitan tentang ilmu yang dipelajari, dosen mampu untuk mengarahkan dan memberi tahu bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Jadi, antara dosen dan mahasiswa sama-sama saling berkolerasi dan bertukar pendapat atau dengan kata lain dosen adalah fasilitator.
Berbeda ketika sistem pembelajaran dibentuk dengan menggunakan sistem paedagogi. Karena pendidikan model paedagogi lebih mementingkan dosen sebagai pusat mata kuliah atau sumber satu-satunya ilmu. Oleh sebab itu, mahasiswa hanya dijadikan alat rekam yang suatu ketika akan disetel untuk mengikuti UTS/UAS. Berati pendidikan semacam itu berorientasi kepada nilai bukan kepada kebutuhan akan solusi pemecahan pokok persoalan.
Jadi fungsi utama dosen yaitu sebagai fasilitator untuk mengarahkan dan memberi sumbangsih atas kebutuhan keilmuan mahasiswa. Hal seperti ini akan menjadikan dosen, berfikir lebih memperdalam keilmuannya sehingga ketika mahasiswa bertanya ia lebih paham. Sedangkan mahasiswa dituntut belajar mandiri dengan kesepakatan dan tujuan yang sebelumnya dibentuk antara dosen dan mahasiswanya.
Sistem pendidikan seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan bangsa Indonesia. Karena proses pembentukan karakter itu secara alamiah terwujud bukan melalui paksaan. Jadi mahasiswa lebih bebas dalam menjalankan sistem pembelajaran yang sesuai kesepakatan.
Keuntungan dari sistem tersebut yaitu pertama, membentuk individu/mahasiswa yang mandiri dalam mencari ilmu, bukan bergantung kepada dosen. Kedua, banyak dan beragam pengalaman karena terlibat langsung dengan pokok persoalan. Ketiga, yaitu kesiapan mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran sudah terjamin. Terakhir, berpusat langsung pada masalah atau kinerja (performance).
Walhasil peran mahasiswa dan dosen selaku pengajar dalam sistem pembelajaran akan lebih terasa menyenangkan. Bukan sistem pembelajaran yang kaku dan membosankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar