Selasa, 19 Maret 2013

Puisi

Puisi ini aku tulis untuk someone yang kini telah menemukan ruang dalam dirinya dan diri pasangannya. Puisi ini juga buat someone yang kini menjadi ruang rindu ketika aku telah lelah dari jenuhnya dunia ini.

Aku dan Kamu

Rasanya hari ini aku menemukan biru
yang dulu terkisah seolah haru
dan kini menjadi kisah yang merdu

Antara aku dan dirimu
kini menjadi satu
satu menyerap dua
dua menyusup satu

Bersatu padu membangun istana biru
dan berhiaskan aku dan dirimu

Rumah Rindu, 19 Maret 2013

 

Kamis, 14 Maret 2013

Cerma

KUTUKAN

(Dimuat Koran Minggu Pagi Edisi No. 38 TH 65 Minggu IV Desember 2012)



  Entahlah, apa namanya? Yang jelas beginilah aku adanya. Mungkin ini adalah sebuah kutukan bagiku. Namun, aku pikir dan aku rasakan itu bukan kutukan tetapi sebuah akibat, yang sudah Tuhan berikan. Namun, apa sebabnya?

  Pertanyaan itu terus menguntitku ketika aku bangun dari sebuah mimpi-mimpi. Mimpi yang dari dulu hingga kini tak pernah sirna.

  Aku ini seorang anak yang lahir tanpa tulang kaki. Lumpuh. Berjalan pun berat dirasa. Apa lagi mulut-mulut mencela, mencecar, dan memaki-maki.

  “Ahhh....” teriakku sambil membanting gelas yang berada dipinggir tempat tidurku. Kemudian, seperti biasa ibu datang menghampiriku dan mencubit lenganku. Aku lalu berteriak menggelegarkan seluruh gendang telinga tetangga-tetanggaku.

  “Bu....” sambil meneteskan air mata yang sejak tadi sudah mengucur dengan derasnya.

  “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku dilahirkan tidak seperti manusia yang lain. Mempunyai dua kaki untuk berjalan.”

  Seperti biasa ibuku bilang itu adalah takdir. Takdir yang harus aku terima dari Tuhan. Tapi aku tahu ibu sedang menyembunyikan sesuatu hal dariku. Ibu bohong.

***

  Berhari-hari, aku selalu murung. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu bermain dengan ceria bersama teman-teman di pedesaan. Sebuah desa yang masih mempunyai udara murni dan rasa asri dibanding di rumah nenek yang di kota.

  Tetapi, hari ini aku bukan lagi aku yang ceria, aku yang  gembira, aku yang bahagia. Melainkan aku yang pemarah, aku yang pembenci, aku yang pendendam.

  Suatu hari, aku menemukan sebuah ilham. Ilham untuk mencari siapa aku sebenarnya? Ketika malam semakin gelap, aku pun pergi merayap dari rumah ke sebuah desa terpencil yang dulu katanya aku dilahirkan.

  Disebuah rumah reot, cukup tua beratapkan rumput kering dan beralaskan tanah liat. Aku menemukan sesosok lelaki tua yang sudah berusia senja.

  Kepada lelaki tua itulah aku menumpahkan segala kerikil-kerikil yang ada di hati. Dan dari situlah aku memulai lebih sedikit kenal siapa aku?

  Kekek tua itu mengaku, ia adalah kakekku. Kemudian ia meneteskan air matanya.

  “Kenapa kakek menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku yang sejak awal penasaran siapa aku.

  “Dulu, kakek dan nenekmu adalah pasangan yang cukup bahagia. Kehidupan yang sederhana disebuah desa. Kebahagiaan dan ketentraman selalu bersama kami. Sampai akhirnya, kami melahirkan seorang anak lelaki yang tampan dan gagah berani. Arjuna itulah namanya. setelah Arjuna tumbuh dan sudah menginjak usia sekitar enam tahun, nenekmu melahirkan kembali. Ia melahirkan seorang gadis dan kami beri nama Dewi Shinta. Ia adalah ibumu, ibumu nak.”

  Air matanya terus mengalir deras. Kemudian ia berkisah kembali.

  “Setelah mereka tumbuh besar. Mereka pun sudah mulai mengerti tentang cinta, tentang cantik, tentang indah. Mereka pun jatuh cinta dan akhirnya melakukan hubungan terlarang. beberapa bulan kemudian Dewi Shinta pun hamil. Akhirnya mereka kami usir dari rumah. Namun, nenekmu juga menginginkan perpisahan. Ia memilih pergi ke Kota dibandingkan dengan kakek yang lebih memilih mengasingkan diri disini. Rumah kami pun jual beserta tanahnya.”

  “Dan cerita berikutnya, beberapa bulan kemudian ibumu kesini dengan raut muka bekas-bekas luka. Ia bilang inilah kelakuan Arjuna. Ia pergi entah tahu kemana. Malamnya, ibumu menjerit-jerit kesakitan sebelum kamu dilahirkan. Dengan bantuan mbah dukun setempat. Engkau lahir dengan selamat. Namun, tidak dengan kondisi kaki yang layu tanpa tulang.”

  Kakek itu terus mengalirkan air matanya. Ia menatapku dengan tajam. Kemudian memeluku dengan erat.
Sekarang aku paham, apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan pun terjawab.

***

  Sudah berbulan-bulan, kisahku pun pergi berlalu seperti rembulan. Aku pun jalani kehidupan normal kembali. Aku yang ceria, aku yang gembira, aku yang bahagia kembali bersama denganku.

  Hingga akhirnya, aku pun menemukan seorang gadis. Ia juga seperti aku. Lumpuh. Tidak bisa berjalan. Semakin lama kami pun sudah mengenal satu sama lain. Termasuk siapa keluarganya. Tapi siapa yang tahu? Ternyata ayahnya juga ayahku. Arjuna. Orang yang telah membuang ibu. Aku marah.

  “Ahhh..... apa ini yang namanya kutukan?” Gumamku. Bukan, ini adalah akibat. Akibat hubungan terlarang dua orang saudara yang menyebabkan Tuhan memberi penjelasan lewat fenomena kelumpuhan. 

Sleman, November 2012


Cerma

RUKMINI

(Dimuat Koran Minggu Pagi No. 39 TH 65 Minggu V Desember 2012)


  Rukmini. Gadis yang kecil imut itu, kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Seperti pohon kelapa yang ditanam ayahnya disamping rumah pada saat ia berumur satu tahun setengah bulan. Pohon kelapa itu tumbuh besar bersamanya, yang kini sudah bisa dipetik buahnya.

  Rukmini kini bukan Rukmini yang dulu masih kecil. Rukmini yang sekarang lebih tumbuh dewasa. Banyak pemuda di daerahnya pun saling mencuri pandang padanya.

  Ia. Rukmini. Kini telah menjadi bunga melati yang menyebarkan bau harumnya kesetiap hidung lelaki yang menghirup wanginya.
Bigitu pula dengan Surya. Anak pengusaha kaya daerah situ. Surya penasaran dengan sesosok gadis jelita yang bernama Rukmini.
Surya, begitulah anak-anak daerah situ memanggilnya. Surya Jayabaya nama lengkapnya. Ia memang masih muda, banyak anak perawan daerahnya pun meliriknya untuk menjadi permaisurinya.

  Tapi sayang, Surya sudah terpesona dengan kehadiran nama Rukmini. Yang ia sendiri belum melihatnya. Hanya mendengar omongan-omongan orang-orang yang kerja dengan bapaknya.
Sorenya pun Surya langsung tancap gas. Ia langsung beraksi mencari rumah Rukmini. Yang alamatnya didapat dari tetangga Rukmini.

  “Iya, ini pasti rumahnya.” Gumamnya.

  Kemudian, ia bergegas turun dan dengan langkah seribu ia masuki rumah itu.

  Disana. Surya bertemu dengan ibu Rukmini. Ibunya bilang, Rukmini masih di sekolah untuk persiapan Ujian Nasional.
Surya baru tahu, bahwa Rukmini masih anak sekolahan yang sebentar lagi baru lulus ujian.

  Ia permisi dan bergegas pulang. Namun, sebelumnya ia bilang ke ibu Rukmini jam 08.00 ingin bertemu di rumahnya.

                                                  ***

  Malamnya. Surya berdandan sangat wangi dan rapi. Begitu pula Rukmini yang sejak tadi mengaca tanpa henti. Pertemuan ini memang pertemuan pertama bagi mereka. Tapi mereka sudah saling mengenal lewat mulut-mulut yang bicara.

  Dikursi duduk meraka saling bertukar senyum. Saling lirik-melirik. Kemudian Surya bercerita maksud kedayangannya ke rumah Rukmini. Ia bilang kepada Rukmini dan ibunya, bahwa Ia ingin berkenalan dengan Rukmini.

  “Iya Mas. Sebenarnya Ruk sudah kenal mas lewat pembicaraan orang-orang.” Jawab Rukmini dengan anggun.

  “Tapi. Ibarat buah kelapa, kita ini baru kenal kulitnya saja Ruk. Jadi, alangkah baiknya jika kita lebih mendalam lagi.”

  “Orang Jawa pun bilang, cinta itu ada karena sering berjumpa. Nggih to Bu?” rayu Surya.

  Malam semakin malam. Lampu-lampu rumah pun mulai padam. Itulah kebiasaan orang-orang desa. Jika dibandingkan dengan gemerlap lampu-lampu di kota.

  Pertemuan pertama akan membuat seseorang menjadi merana. Apalagi kalau sedang jatuh cinta. Begitulah yang dirasakan mereka berdua.

  Kini. Mereka berdua telah menyepakati kata cintanya. Dan kini pula, Rukmini tidak perlu repot-repot lagi bawa motor sendiri. Suryalah yang kini menjadi pengantar jemputnya ketika sekolah.
Semakin lama, semakin keduanya terlihat mesra. Mereka sudah tampak sebagai suami istri yang resmi.

  Tetapi semakin lama pula Rukmini semakin tahu. Surya adalah lelaki penjahat, lelaki yang memandang segalanya bisa dibeli dengan uang. Termasuk kenikmatan tubuhnya, yang hanya jadi pemuas nafsu bejat Surya.

  “Sekarang kita putus.” Kata Rukmini yang cukup singkat.

  “Aku sudah tahu banyak tentang kelakuanmu Surya. Aku sudah tahu. Kamu tidak bisa bohong lagi denganku.”

  Rukmini menangis sejadi-jadinya. Malam yang berkabut menyelimuti hati Rukmini.

  Tetapi, Surya dengan gaya perlentenya menyedot sebatang rokok dengan nikmatnya. Dan membiarkan Rukmini lari. Pergi.

***

  Kejadian itu sudah setengah bulan berlalu, kini Rukmini dikabarkan memiliki lelaki lain. Dimas panggilannya. Dimas Anggoro nama lengkapnya.

  Ketika Surya tahu kejadian itu. Ia marah. Hatinya remuk redam seperti dihatam batu karang. Sakit. Mungkin seperti itu.
Tetapi ia lebih marah lagi ketika Dimas yang menjadi lelaki penggantinya. Adalah teman satu kelas ketika ia masih SMA.

  “Dimas. Lelaki macam apa dia?” umpatnya.

  Surya yang kini sedang buta mata hatinya, ia memutuskan untuk memberi balasan terhadap sakit hatinya dengan Rukmini.
Ia pergi ke sebuah tempat pelosok daerahnya. Ia menemui seorang nenek tua. Ia menceritakan bagaimana kacaunya guncangan jiwanya karena terjatuh dari cinta.

  Kemudian ia, meminta nenek itu untuk membalaskan rasa sakitnya pada Rukmini. Dengan santet. Dan dengan biaya berapapun asal rasa sakitnya terbalaskan.

Nenek tua itu lalu mengambil boneka Santet dan berbagai macam jarum. Mulutnya berkomat-kamit baca mantra. Kemudian ia menyuruh Surya, untuk melakukan kemauannya.

  ***

  (Ditempat yang lain) “ahh... sakit bu. Tolong...tolong...” Rukmini memekik kesakitan. Wajahnya memerah bagaikan terbakar api. Hidungnya mengeluarkan darah. Mulutnya memuntahkan jarum-jarum.

  Orang tua Rukmini panik. Berteriak-teriak minta tolong kepada tetangga-tetangganya.

  Kini Rukmini dibawa ke dokter terdekat. Tetapi ada kejanggalan. Dokter menyatakan Rukmini akan baik-baik saja. Namun, setelah Rukmini pulang peristiwa itu terjadi lagi. Dan ini berulang kali terjadi.

  Akhirnya, orang tua Rukmini bersepakat memanggil orang pintar di daerahnya. Orang pintar itu bilang, Rukmini terkena santet. Tapi sayang ia tidak bisa mengobati walaupun orang pintar itu sudah mencobanya berulang kali. Berulang kali pula jarum itu muncul semakin banyak lagi.

  Seminggu kemudian, Rukmini dikabarkan meninggal dengan kondisi yang mengenaskan. Mukanya terdapat bercak-bercak darah. Tubuhnya kering. Dan rambutnya pada lepas. Ia mati secara tidak wajar.

Sleman, 2012