Senin, 08 April 2013

Opini

Dosen Hanya Fasilitator
Oleh Mas Adhi

Peran dosen dalam proses pembelajaran memang tidak kalah penting. Namun yang lebih penting lagi yaitu pribadi mahasiswa (student personality) yang harus dibenahi. Karena sebagus apapun kurikulum dan  sebaik  apapun metode mengajar dosen kalau tidak diimbangi oleh kemampuan (skill) mahasiswa, itu adalah suatu kebohongan (non sense).

Ciri atau karakter dari pendidikan orang dewasa  (Andragogi) yaitu mahasiswa dituntut untuk aktif dalam pencarian ilmu. Begitu pula dengan peran dosen, ketika mahasiswa kesulitan tentang ilmu yang dipelajari,  dosen mampu untuk mengarahkan dan memberi  tahu bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Jadi, antara dosen dan mahasiswa sama-sama saling berkolerasi dan bertukar pendapat atau dengan kata lain dosen adalah fasilitator.

Berbeda ketika sistem pembelajaran dibentuk dengan menggunakan sistem paedagogi. Karena pendidikan model paedagogi lebih mementingkan dosen sebagai pusat mata kuliah atau sumber satu-satunya ilmu. Oleh sebab itu, mahasiswa hanya dijadikan alat rekam yang suatu ketika akan disetel untuk mengikuti UTS/UAS. Berati pendidikan semacam itu berorientasi kepada nilai bukan kepada kebutuhan akan solusi pemecahan pokok persoalan.

Jadi fungsi utama dosen yaitu sebagai fasilitator  untuk mengarahkan dan memberi sumbangsih atas kebutuhan keilmuan  mahasiswa. Hal seperti ini akan menjadikan dosen, berfikir lebih memperdalam keilmuannya sehingga ketika mahasiswa bertanya ia lebih paham. Sedangkan mahasiswa dituntut belajar mandiri dengan kesepakatan dan tujuan yang sebelumnya dibentuk antara dosen dan mahasiswanya.

Sistem pendidikan seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan bangsa Indonesia.  Karena proses pembentukan karakter itu secara alamiah terwujud bukan melalui paksaan. Jadi mahasiswa lebih bebas dalam menjalankan sistem pembelajaran yang sesuai kesepakatan.

Keuntungan dari sistem tersebut yaitu pertama, membentuk individu/mahasiswa yang mandiri dalam mencari ilmu, bukan bergantung kepada dosen. Kedua, banyak dan beragam pengalaman karena terlibat langsung dengan pokok persoalan. Ketiga, yaitu kesiapan mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran sudah terjamin. Terakhir, berpusat langsung pada masalah atau kinerja (performance).

Walhasil peran mahasiswa dan dosen selaku pengajar  dalam sistem pembelajaran akan lebih terasa menyenangkan. Bukan sistem pembelajaran yang kaku dan membosankan.

Minggu, 07 April 2013

Opini

Mendidik Dengan Hati

Kejenuhan mahasiswa dalam proses perkuliahan adalah hal sepele yang tidak perlu dibesarkan. Tergantung bagaimana kreativitas dosen dalam memberikan perkuliahan. Sehingga mampu menciptakan suasana yang nyaman, kondusif, dan terarah.

Banyak dosen dalam mengajar mata kuliah terlalu fokus (sepanteng) dengan teori-teori pembahasan yang ada. Mereka kurang mampu mengintegrasi dan interkoneksikan segala jenis mata kuliah atau pelajaran, sehingga menyebabkan mahasiswa malas untuk kritis terhadap teori-teori yang disampaikan.

Teori-teori hanya akan menjadi sampah-sampah pemikiran mana kala tidak ada praktik (practice) dalam pembelajaran/sistem pengajaran. Terjun langsung ke TKP (Tempat Kejadian Persoalan) adalah metode mutakhir yang mampu mengusir rasa jenuh seorang mahasiswa. Karena hanya di TKP lah, semua mahasiswa mampu mengekspresikan pemahaman mereka terhadap teori-teori yang dipelajari.

Para dosen juga harus mampu dan mau toleran terhadap pendapat mahasiswa yang baru berproses untuk pen-dewasa-an ilmu. Sehingga semua pendapat (uneg-uneg) dapat tersampaikan dengan baik. Disinilah peran dosen dituntut, yaitu merumuskan segala pendapat dari berbagai mahasiswa agar dapat menjadi suatu kesimpulan akhir yang tidak menyesatkan. Inilah yang dimaksud pengajaran terarah.

Selain itu, kritik merupakan senjata ampuh yang mampu dijadikan alat untuk mereformasi sistem pengajaran yang ada. Baik itu kritik dari mahasiswa ke dosen atau sebailiknya. Sehingga dalam pengajaran, dosen atau mahasiswa selaku pembelajar selalu berbenah diri agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi (baca: introspeksi). Kalau ada dosen marah (anti kritik) saat dikritik berarti mereka tak mampu menjalankan amanah mendidik/mengajar.

Pengajar yang baik adalah pengajar yang mampu mebuat suasana pembelajaran yang asyik dan meyenangkan. Asyik dalam penyampaikan materi dan menyenangkan dalam pengajaran pemraktekan. Dalam hal ini, dosen dituntut kreatif mendidik dengan rasa (ilmu jiwa). Karena dengan rasa-lah (pemahaman mendalam) semua akan be-rasa (mampu memahami). Hanya rasa seorang pengajar yang akan mampu mengerti karakter mahasiswa atau anak didiknya.

Sehingga pengajar (dosen) dan yang diajar (mahasiswa) sama-sama memahami dan memberi masukan apabila terjadi kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan solusi penyelesaian persoalan. Karena ilmu rasa itu memang sulit didapatkan, bahkan di Perguruan Tinggi pun belum menjamin ada.

Jumat, 05 April 2013

Opini

Opini ini saya tulis ketika ada tantangan dari kompas kampus mengenai kepedulian mahasiswa terhadap politik di negeri ini. Namun sayang, opini ini tidak dimuat. Tetapi itu tidak mengurungkan hati saya untuk tetap berkarya. Terimakasih.

Peduli Politik Peduli Rakyat

Keikutsertaan mahasiswa dalam kancah politik berarti menunjukkan kepeduliannya terhadap rakyat. Karena politik tidak bisa lepas yang namanya kekuasaan dan kekuasaan tertinggi suatu negara itu dipegang oleh rakyat.
Dalam sejarah pun, peran mahasiswa dalam politik begitu besar. Seorang presiden pun takut dengan mahasiswa. Mengutip puisi Taufik Ismail bahwa mahasiswa takut dengan dosen/ dosen takut dekan/ dekan takut rektor/ rektor takut dengan menteri/ menteri takut dengan presiden/ presiden takut dengan mahasiswa.
Suara mahasiswa adalah suara rakyat. Hal itu menunjukkan bahwa peran mahasiswa sebagai agen of change memang harus benar-benar diwujud nyatakan. Sebagai bentuk realnya yaitu peduli terhadap politik dan berbagai persoalannya.
Salah satu mengapa mahasiswa bahkan sebagian rakyat tidak peduli politik. Hal itu disebabkan karena rusaknya politik di Indonesia.
Diberbagai Media pun setiap hari kita disuguhi berita tentang korupsi, sekandal seks DPR dan berbagai berita lain yang ada sangkut pautnya dengan kebobrokan wakil rakyat.
Kerusakan politik negeri ini adalah tanggung jawab yang harus diemban mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Bagaimana jadinya bangsa ini tanpa ada mahasiswa yang peduli dengan dunia politik?