Mendidik Dengan Hati
Kejenuhan mahasiswa dalam proses perkuliahan adalah hal sepele yang tidak perlu dibesarkan. Tergantung bagaimana kreativitas dosen dalam memberikan perkuliahan. Sehingga mampu menciptakan suasana yang nyaman, kondusif, dan terarah.
Banyak dosen dalam mengajar mata kuliah terlalu fokus (sepanteng) dengan teori-teori pembahasan yang ada. Mereka kurang mampu mengintegrasi dan interkoneksikan segala jenis mata kuliah atau pelajaran, sehingga menyebabkan mahasiswa malas untuk kritis terhadap teori-teori yang disampaikan.
Teori-teori hanya akan menjadi sampah-sampah pemikiran mana kala tidak ada praktik (practice) dalam pembelajaran/sistem pengajaran. Terjun langsung ke TKP (Tempat Kejadian Persoalan) adalah metode mutakhir yang mampu mengusir rasa jenuh seorang mahasiswa. Karena hanya di TKP lah, semua mahasiswa mampu mengekspresikan pemahaman mereka terhadap teori-teori yang dipelajari.
Para dosen juga harus mampu dan mau toleran terhadap pendapat mahasiswa yang baru berproses untuk pen-dewasa-an ilmu. Sehingga semua pendapat (uneg-uneg) dapat tersampaikan dengan baik. Disinilah peran dosen dituntut, yaitu merumuskan segala pendapat dari berbagai mahasiswa agar dapat menjadi suatu kesimpulan akhir yang tidak menyesatkan. Inilah yang dimaksud pengajaran terarah.
Selain itu, kritik merupakan senjata ampuh yang mampu dijadikan alat untuk mereformasi sistem pengajaran yang ada. Baik itu kritik dari mahasiswa ke dosen atau sebailiknya. Sehingga dalam pengajaran, dosen atau mahasiswa selaku pembelajar selalu berbenah diri agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi (baca: introspeksi). Kalau ada dosen marah (anti kritik) saat dikritik berarti mereka tak mampu menjalankan amanah mendidik/mengajar.
Pengajar yang baik adalah pengajar yang mampu mebuat suasana pembelajaran yang asyik dan meyenangkan. Asyik dalam penyampaikan materi dan menyenangkan dalam pengajaran pemraktekan. Dalam hal ini, dosen dituntut kreatif mendidik dengan rasa (ilmu jiwa). Karena dengan rasa-lah (pemahaman mendalam) semua akan be-rasa (mampu memahami). Hanya rasa seorang pengajar yang akan mampu mengerti karakter mahasiswa atau anak didiknya.
Sehingga pengajar (dosen) dan yang diajar (mahasiswa) sama-sama memahami dan memberi masukan apabila terjadi kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan solusi penyelesaian persoalan. Karena ilmu rasa itu memang sulit didapatkan, bahkan di Perguruan Tinggi pun belum menjamin ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar