Kamis, 14 Maret 2013

Cerma

KUTUKAN

(Dimuat Koran Minggu Pagi Edisi No. 38 TH 65 Minggu IV Desember 2012)



  Entahlah, apa namanya? Yang jelas beginilah aku adanya. Mungkin ini adalah sebuah kutukan bagiku. Namun, aku pikir dan aku rasakan itu bukan kutukan tetapi sebuah akibat, yang sudah Tuhan berikan. Namun, apa sebabnya?

  Pertanyaan itu terus menguntitku ketika aku bangun dari sebuah mimpi-mimpi. Mimpi yang dari dulu hingga kini tak pernah sirna.

  Aku ini seorang anak yang lahir tanpa tulang kaki. Lumpuh. Berjalan pun berat dirasa. Apa lagi mulut-mulut mencela, mencecar, dan memaki-maki.

  “Ahhh....” teriakku sambil membanting gelas yang berada dipinggir tempat tidurku. Kemudian, seperti biasa ibu datang menghampiriku dan mencubit lenganku. Aku lalu berteriak menggelegarkan seluruh gendang telinga tetangga-tetanggaku.

  “Bu....” sambil meneteskan air mata yang sejak tadi sudah mengucur dengan derasnya.

  “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku dilahirkan tidak seperti manusia yang lain. Mempunyai dua kaki untuk berjalan.”

  Seperti biasa ibuku bilang itu adalah takdir. Takdir yang harus aku terima dari Tuhan. Tapi aku tahu ibu sedang menyembunyikan sesuatu hal dariku. Ibu bohong.

***

  Berhari-hari, aku selalu murung. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu bermain dengan ceria bersama teman-teman di pedesaan. Sebuah desa yang masih mempunyai udara murni dan rasa asri dibanding di rumah nenek yang di kota.

  Tetapi, hari ini aku bukan lagi aku yang ceria, aku yang  gembira, aku yang bahagia. Melainkan aku yang pemarah, aku yang pembenci, aku yang pendendam.

  Suatu hari, aku menemukan sebuah ilham. Ilham untuk mencari siapa aku sebenarnya? Ketika malam semakin gelap, aku pun pergi merayap dari rumah ke sebuah desa terpencil yang dulu katanya aku dilahirkan.

  Disebuah rumah reot, cukup tua beratapkan rumput kering dan beralaskan tanah liat. Aku menemukan sesosok lelaki tua yang sudah berusia senja.

  Kepada lelaki tua itulah aku menumpahkan segala kerikil-kerikil yang ada di hati. Dan dari situlah aku memulai lebih sedikit kenal siapa aku?

  Kekek tua itu mengaku, ia adalah kakekku. Kemudian ia meneteskan air matanya.

  “Kenapa kakek menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku yang sejak awal penasaran siapa aku.

  “Dulu, kakek dan nenekmu adalah pasangan yang cukup bahagia. Kehidupan yang sederhana disebuah desa. Kebahagiaan dan ketentraman selalu bersama kami. Sampai akhirnya, kami melahirkan seorang anak lelaki yang tampan dan gagah berani. Arjuna itulah namanya. setelah Arjuna tumbuh dan sudah menginjak usia sekitar enam tahun, nenekmu melahirkan kembali. Ia melahirkan seorang gadis dan kami beri nama Dewi Shinta. Ia adalah ibumu, ibumu nak.”

  Air matanya terus mengalir deras. Kemudian ia berkisah kembali.

  “Setelah mereka tumbuh besar. Mereka pun sudah mulai mengerti tentang cinta, tentang cantik, tentang indah. Mereka pun jatuh cinta dan akhirnya melakukan hubungan terlarang. beberapa bulan kemudian Dewi Shinta pun hamil. Akhirnya mereka kami usir dari rumah. Namun, nenekmu juga menginginkan perpisahan. Ia memilih pergi ke Kota dibandingkan dengan kakek yang lebih memilih mengasingkan diri disini. Rumah kami pun jual beserta tanahnya.”

  “Dan cerita berikutnya, beberapa bulan kemudian ibumu kesini dengan raut muka bekas-bekas luka. Ia bilang inilah kelakuan Arjuna. Ia pergi entah tahu kemana. Malamnya, ibumu menjerit-jerit kesakitan sebelum kamu dilahirkan. Dengan bantuan mbah dukun setempat. Engkau lahir dengan selamat. Namun, tidak dengan kondisi kaki yang layu tanpa tulang.”

  Kakek itu terus mengalirkan air matanya. Ia menatapku dengan tajam. Kemudian memeluku dengan erat.
Sekarang aku paham, apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan demi pertanyaan pun terjawab.

***

  Sudah berbulan-bulan, kisahku pun pergi berlalu seperti rembulan. Aku pun jalani kehidupan normal kembali. Aku yang ceria, aku yang gembira, aku yang bahagia kembali bersama denganku.

  Hingga akhirnya, aku pun menemukan seorang gadis. Ia juga seperti aku. Lumpuh. Tidak bisa berjalan. Semakin lama kami pun sudah mengenal satu sama lain. Termasuk siapa keluarganya. Tapi siapa yang tahu? Ternyata ayahnya juga ayahku. Arjuna. Orang yang telah membuang ibu. Aku marah.

  “Ahhh..... apa ini yang namanya kutukan?” Gumamku. Bukan, ini adalah akibat. Akibat hubungan terlarang dua orang saudara yang menyebabkan Tuhan memberi penjelasan lewat fenomena kelumpuhan. 

Sleman, November 2012


Tidak ada komentar: